KH. Abdul Muiz adalah putra KH. Idris, dari 11
saudara yang merupakan cucu KH. Sarqowi, pendiri pesantren An-Nuqoyah
Guluk-guluk Sumenep Madura. Beliau dikenal sebagai seorang pengayom
ummat lewat nasehat dan kepeduliannya terhadap problema yang dialami
oleh masyarakat, baik masalah yang bersifat pribadi maupun yang bersifat
umum.
Dalam pengembaraannya, kia Muiz bertemu dan
berjodoh dengan seorang gadis bernama Zaitun, putrid KH. Abdul Aziz,
yang kemudian dinikahinya dalam usia 28 tahun. Istri beliau juga
merupakan cucu kesayangan KH. Rois, pendiri pesantren Nurul Hikam, Desa
Sambirambak, Panji, Situbondo. Tiga tahun setelah menikah, kia Muiz hijrah ke desa Kali Anget. Di desa itu beliau menempati tanah berukuran 6 x 10 m2 di pinggiran pantai yang masih rawa-rawa. Di atas tanah tersebut dibangun rumah semi permanent yang berukuran 4x6 yang dijadikan tempat kediaman dan sekedar tempat berteduh. Berkat keistiqomahan , kesabaran, dan keikhlasannya ternya mendapat sambutan positif oleh masyarakat sekitar. Hingga pada tahun 1970 mulailah santri berdatangan dari segala penjuru hingga mencapai 500 santri untuk berguru ilmu agama.
Kiai Muiz juga aktif di organisasi kemasyarakatan, baik NU, IPNU, GP Ansor, LP Ma’arif dan beberapa organisasi lain dan juga dikenal sebagai kiai yang mempunyai dedikasi terhadap regenerasi Islam yang ditunjukkan melalui pengajian dan pendidikan yang tidak dikenal lelah, untuk dijadikan sarana pembinaan masyarakat dengan segala upaya. Kiai Muiz yang masih keturunan Sunan Kudus ini terasa dekat di hati masyarakat. Masa remaja beliau banyak dihabiskan di pesantren yang berada di lingkup rumahnya sendiri. Dalam menguasai ilmu agama, kiai Muiz dikenal sebagai kiai yang menguasai leteratur agama, baik yang salaf sampai yang ditulis para intelektual Islam modern.
Sebagai seorang kiai, kiai Muiz juga seorang pemerhati dan hoby kesenian. Kegemarannya terhadap rebbana disalurkannya dalam komunitas hadrah yang dijadikan sarana dakwah pengenal sejarah nabi. Tidak hanya itu, kiai Muiz juga menggemari musik gambus. Jadi tidak heran bila beliau menguasai alat musik secara otodidak dapat beliau kuasai, seperti rebana, biola, gitar, dan mawaris.
Ada tiga hal yang selalu diajarkan kiai Muiz kepada santrinya. Pertama, mendirikan sholat sebagai benteng diri dari prilaku yang bisa mengarahkan terciptanya keburukan dan kejahatan serta kekejihan. Kedua, senantiasa baik sangka kepada Allah di dalam berdzikir. Ketiga, berdoalah agar kita tidak sombong, ujub, dan takabur.
Berkat kecintaanya terhadap pengembangan masyarakat dan pengabdiannya di bidang keilmuan, pada tanggal 23 April 2000, beliau mendapatkan gelar Doktor kehormatan (Honoraris Causa) di bidang managemen masyarakat dan keagamaan dari ITM Malaysia. (Duta Masyarakat, 20 Desember 2005)
