Putera Melayu-Batak yang
berkepribadian tegas tetapi sekaligus luwes dan supel dalam bergaul ini
meninggal pada tanggal 2 Maret 1963. Ia gugur setelah dirawat akibat
tembakan yang menembus dadanya ketika sedang Shalat Idul Adha bersama
Presiden Soekarno di lapangan terbuka depan Istana Negara, 14 Mei 1962
M. Tahun ini, tepatnya 2 September 2009, merupakan peringatan hari lahir
ke-100 Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia, Kiai Haji Zainul
Arifin.
Istana, Pencak Silat dan Stambul Bangsawan
Zainul Arifin dilahirkan di Barus, Tapanuli Tengah, pada 2 September
1909. Ayahnya adalah Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi
Alam Pohan, penguasa suku Pesisi (Melayu). Sedangkan ibunya Siti Baiyah
Nasution, perempuan bangsawan dari etnik Melayu Mandailing. Ketika
Zainul masih balita orang tuanya berpisah dan ia mengikuti ibunya yang
menikah lagi serta membawanya pindah ke Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Di
sana ia menyelesaikan HIS (Hollands Indische School), sekolah dasar
berbahasa Belanda dan kemudian melanjutkan ke sekolah menengah keguruan
Normal School.
Zainul Arifin juga memperdalam pengetahuan agama di Madrasah dan surau,
serta menjalani pelatihan seni bela diri Pencak Silat. Selain bersekolah
formal, Arifin juga seorang pecinta kesenian yang aktif dalam kegiatan
seni sandiwara musikal melayu, Stambul Bangsawan, sebagai penyanyi dan
pemain biola. Stambul Bangsawan merupakan awal perkembangan seni
panggung sandiwara modern Indonesia. Kesukaannya ini kelak akan membawa
Zainul terlibat dengan Gerakan Pemuda Ansor dan setelahnya, Nahdlatul
Ulama (NU) di Batavia.
Ambtenar di Batavia
Setamat Normal School, dalam usia 17 tahun, Zainul Arifin merantau ke
Batavia (Jakarta). Berbekal ijazah HIS ia diterima bekerja di
pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan
Air Minum (PAM) yang hingga kini kantornya masih berlokasi di daerah
Pejompongan Jakarta Pusat. Di sana ia sempat bekerja selama lima tahun,
sebelum akhirnya terkena PHK saat resesi global yang bermula di AS dan
berdampak hingga ke wilayah Hindia Belanda.
Arifin kemudian memilih bekerja sebagai guru sekolah dasar dan
mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat, di
kawasan Meester Cornelis (Jatinegara) sekarang. Zainul juga sering
memberi bantuan hukum bagi masyarakat Betawi yang membutuhkan sebagai
tenaga Pokrol Bambu, pengacara yang tidak berlatarbelakang pendidikan
Hukum namun menguasai Bahasa Belanda. Selain itu ia pun aktif kembali
dalam kegiatan seni sandiwara musikal tradisional Betawi yang berasal
dari tradisi Melayu, Samrah. Ia sempat mendirikan kelompok samrah
bernama, Tonil Arifin.
Dari kegiatan kesenian ini ia berkenalan dan selanjutnya sangat akrab
bersahabat dengan tokoh perfilman nasional, Jamaluddin Malik yang kala
itu juga bergiat dalam kegiatan Samrah. Kedua mereka kemudian bergabung
dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang ketika itu memang aktif merekrut
tenaga-tenaga muda. Selama menjadi anggota GP Ansor inilah Arifin
kemudian semakin meningkatkan pengetahuan agama dan ketrampilan
berdakwahnya sebagai muballigh muda lewat pelatihan-pelatihan khas
Ansor.
Kepiawaian Zainul dalam berpidato, berdebat dan berdakwah ternyata
menarik perhatian tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, organisasi induk Ansor
termasuk: Wahid Hasyim, Mahfudz Shiddiq, Muhammad Ilyas, dan Abdullah
Ubaid. Hanya dalam beberapa tahun saja, Zainul Arifin sudah menjadi
Ketua Cabang NU Jatinegara dan berikutnya sebagai Ketua Majelis Konsul
NU Batavia.
Menjabat Sebagai Panglima Hizbullah
Ketika Jepang datang, untuk menarik simpati warga hingga ke pedesaan,
organisasi-organisasi Islam (utamanya NU) diberi kesempatan untuk lebih
aktif terlibat dalam pemerintahan di bawah pendudukan militer Jepang.
Zainul Arifin ditugaskan untuk membentuk model kepengurusan Tonarigumi,
cikal bakal Rukun Tetangga, di Jatinegara, yang kemudian dibentuk pula
hingga ke pelosok-pelosok desa di Pulau Jawa.
Ketika Perang Asia Pasifik semakin memanas, Jepang mengizinkan
dibentuknya laskar-laskar semi militer rakyat. Pemuda-pemuda Islam
direkrut lewat jalur Tonarigumi membentuk Hizbullah (Tentara Allah).
Arifin dipercaya sebagai Panglima Hizbullah dengan tugas utama
mengkoordinasi pelatihan-pelatihan semi militer di Cibarusa, dekat
Bogor.
Dalam puncak kesibukan latihan perang guna mengantisipasi terjadinya
Perang Asia Pasifik, Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Soekarno
-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Zainul kemudian bertugas
mewakili partai Masyumi di Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat
(BP-KNIP), cikal bakal DPR-MPR, sambil terus memegang tampuk pimpinan
Hizbullah yang sudah menjelma menjadi pasukan bersenjata.
Selama masa Revolusi, selain mengikuti sidang-sidang BP KNIP yang
berpindah-pindah tempat karena kegawatan situasi, Arifin juga memimpin
gerakan-gerakan gerilya Laskar Hizbullah di Jawa Tengah dan Jawa Timur
selama Agresi Militer I dan II. Dalam memimpin Laskar Hizbullah Zainul
menggunakan jalur tonarigumi atau Rukun Tetangga yang dulu dibinanya
hingga meliputi desa-desa terpencil di Jawa.
Saat terjadi Agresi Militer II bulan Desember 1948, Belanda berhasil
menjatuhkan Yogyakarta dan menawan Soekarno -Hatta. Dalam keadaan
darurat, BP KNIP praktis tidak berfungsi. Arifin lantas terlibat
sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa (KPPD), bagian dari
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berkedudukan di
Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Tugas utama Zainul melakukan konsolidasi
atas badan-badan perjuangan yang melancarkan taktik gerilya di bawah
komandan Jenderal Sudirman.
Saat pemerintah melebur segenap pasukan bersenjata ke dalam satu wadah
Tentara Nasional Indonesia, Zainul Arifin sempat dipercaya sebagai
Sekertaris Pucuk Pimpinan TNI. Namun akhirnya, ketika banyak mantan
anggota lascar Hizbullah yang dinyatakan tidak bisa diterima menjadi
anggota TNI karena tidak berpendidikan "modern" dan hanya lulusan
Madrasah, ia memilih mengundurkan diri dan berkonsentrasi meneruskan
perjuangan sipil di jalur politik.
Berkiprah di Legislatif dan Eksekutif
Setelah Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI akhir tahun 1949, Zainul
Arifin kembali ke Parlemen sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS dan
kemudian wakil Partai NU ketika akhirnya partai kiai tradisionalis ini
memisahkan diri dari Masyumi tahun 1952. Setahun sesudahnya, Arifin
berkiprah di lembaga eksekutif dengan menjabat sebagai wakil perdana
menteri (waperdam) dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo I yang memerintah dua
tahun penuh (1953-1955).
Untuk pertama kalinya dalam sejarah NU, tiga jabatan menteri (sebelumnya
NU selalu hanya mendapat jatah satu posisi menteri saja) dijabat
tokoh-tokoh NU dengan Zainul Arifin sebagai tokoh NU pertama menjabat
sebagai waperdam. Kabinet itu sendiri sukses menyelenggarakan Konfrensi
Asia Afrika di Bandung. Dalam tahun 1955 itu pula Zainul berangkat haji
untuk pertama dan terakhir kali ke Tanah Suci bersama Presiden Soekarno .
Di sana ia dihadiahi sebilah pedang berlapis emas oleh Raja Arab Saudi,
Raja Saud.
Sekembalinya dari sana Zainul merupakan salah satu tokoh penting yang
berhasil menempatkan partai NU ke dalam "tiga besar" pemenang pemilu
1955, dimana jumlah kursi NU di DPR meningkat dari hanya 8 menjadi 45
kursi. Selain kembali ke parlemen sebagai wakil ketua I DPR RI, setelah
pemilu 1955, Arifin juga mewakili NU dalam Majelis Konstituante hingga
lembaga ini dibubarkan Soekarno lewat dekrit 5 Juli 1959 karena
dipandang gagal merumuskan UUD baru.
Pasca Dekrit, Indonesia dinyatakan kembali ke UUD 1945 dan memasuki era
Demokrasi Terpimpin. Pada masa itu terjadi pemusatan kekuasaan pada diri
Presiden yang berkeras untuk menerapkan faham NASAKOM (Nasionalis,
Agama, dan Komunis) yang menyudutkan partai-partai agama yang tidak
ingin Partai Komunis Indoesia (PKI) berkembang di Indonesia.
Shalat Ied Berdarah
Dalam situasi politik yang semakin memanas di seluruh negeri, Soekarno
sempat bersitegang dengan DPR hingga akhirnya Presiden membubarkan
lembaga perwakilan rakyat hasil pemilu tersebut dan membentuk DPR-GR
(Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong). Partai Islam Masyumi juga
diberangus sehingga praktis tinggal NU partai besar Islam yang tinggal.
Zainul Arifin menerima penunjukan sebagai Ketua DPRGR karena yakin untuk
mengadang gerakan komunisme di pemerintahan adalah dengan tetap berada
di dalam sistem pemerintahan yang sedang berlangsung. Hingga 14 Mei
1962, ketika sedang melakukan shalat Idul Adha berjamaah sederetan
dengan Presiden di lapangan terbuka depan Istana Negara. Pada saat itu
yang bertindak sebagai Imam adalah KH Idham Chalid (Ketua Umum PBNU).
Arifin terkena tembakan di dadanya oleh pemberontak DI/TII yang mencoba
membunuh Soekarno.
Penembak berasal dari barisan ketiga yang menodongkan pistol ketika
melakukan gerakan bangkit dari ruku' (sembari membaca sami'allahu liman
hamidah). Pelaku mengambil senjata ketika ruku' dan langsung meletupkan
pistolnya ke arah Presiden Soekarno. Namun beberapa pengawal presiden
sempat menepis tangan sang penembak, sehingga arah peluru kemudian
melenceng dan justru mengenai Zainul Arifin yang berada di samping
Soekarno. Zainul Arifin kemudian tersungkur akibar peluru yang mengarah
dari bahu hingga memutuskan dasi di dadanya. Zainul Arifin kemudian di
dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto dan dirawat di sana hingga sepuluh
bulan kemudian. Sejak insiden ini Presiden Soekarno tidak pernah lagi
melaksanakan sholat berjamaah di lapangan terbuka.
Meskipun media massa dalam melaporkan kejadian itu menyatakan Arifin
hanya "terluka sangat ringan", namun nyatanya kesehatan Zainul tidak
pernah pulih sejak insiden tersebut. Berkali-kali ia keluar masuk rumah
sakit dan sepuluh bulan kemudian, tepatnya 2 Maret 1963, akhirnya
meninggal dunia setelah mengalami koma selama beberapa hari sebelumnya
karena berbagai komplikasi. Keesokan harinya di bawah guyuran hujan
lebat, jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta.
KH. Zainul Arifin meninggalkan 2 orang isteri dan seorang mantan isteri
yang telah diceraikan semasa hidupnya, dan 21 orang anak. Kenyataan ini
sekaligus sebagai klarifikasi anak-anak KH Zainul Arifin dari istri
pertamanya, agar tidak terdapat salah pengertian dari
keturunan-keturunan KH Zainul Arifin dari kedua isteri yang lainnya.
(Oleh: Ario Helmy, cucu dari Isteri pertama)
logo nuhudzul tholibin

