Sebagaimana diuraikan oleh profesor Alatas dan
Sartono Kartodirdjo, tarekat tersebut merupakan sarana yang sangat
penting bai penyebaran Islam di Indonesia dan Malaysia dari pusatnya di
Makkah antara pertengahan abad ke 19 sampai dengan perempat pertama abad
ke 20. Syekh Sambas menulis buku Fath Al Arifin yang cukup masyhur dan
menjadi bacaan penting bagi pengamal tarekat di wilayah Asia Tenggara.
Fath Al’Arifin adalah suatu pedoman praktis yang menguraikan dasar-dasar
ajaran praktek dzikir bagi para pengikut tarekat.Meskipun
Syekh Sambas di Indonesia lebih dikenal sebagai seorang pemimpin
tarekat, namun sebenarnya ia seorang sarjana dalam Islam yang menguasai
hampir semua cabang ilmu pengetahuan Islam.Kota Makkah pada waktu itu merupakan pusat kebangunan Islam dan berhasil menelorkan pemimpin-pemimpin tarekat yang memiliki pengetahuan yang tinggi dalam berbagai cabang ke-Islaman.
Syekh Sambas adalah seorang dari mereka itu. Selain ia mendidik dan mewariskan pemimpin-pemimpin tarekat bagi perkembangan Islam di Asia Tenggara, Syekh Sambas juga mendidik ahli-ahli Islam dalam bidang lain, seperti Syekh Nawawi. Kedudukan Syekh Sambas sebagai seorang sarjana besar perlu kita sadari betul-betul, sebab sebagaimana ditunjukkan oleh Sonuck Hurgronje kebanyakan sarjana Eropa telah melakukan kesalahan besar dengan seringkali menyimpulkan bahwa para sarjana Islam memusuhi organisasi-organisasi tarekat. Sukses luar biasa yang dicapai oleh organisasi-organisasi tarekat dalam memperkuat kepatuhan masyarakat kepada Islam selalu dihargai dan menimbulkan kekaguman para sarjana Islam. Adalah suatu hal yang penting bahwa seorang sarjana besar seperti Syekh Sambas kepada siapa hampir semua kyai di Jawa menelusuri genealogi intelektual mereka juga dikenal sebagai pemimpin tarekat.
