Dari beberapa nama para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah menjabat
sebagai Menteri Agama (Menag), mungkin orang inilah yang dapat
dikatakan paling singkat menjabatnya.
Tercatat di daftar
nama-nama Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi, pernah
menjabat sebagai Menag selama kurang lebih sepuluh bulan (2 Oktober 1946
- 26 Juli 1947). Jabatan tersebut diembannya dalam Kabinet Syahrir III,
dimana ia menggantikan Menag sebelumnya, H.M Rasjidi. Sebagai orang NU,
dia juga orang yang kedua menjabat Menag, setelah KH Wahid Hasyim.
Meskipun
cukup singkat, namun Fathurrahman dapat membenahi struktur organisasi
di kementerian yang ia pimpin. Selain itu, ia juga memperbaiki
peraturan-peraturan yang terkait dengan Pencatatan Nikah, Talak, dan
Rujuk (NTR) yang ditetapkan dalam UU. No. 22 Tahun 1946. Di dalam
peraturan tersebut, menertibkan posisi penghulu, modin, dan sebagainya.
Kebijakan
lain, yang diambil pada masa Fathurrahman, yakni menyangkut pendidikan
agama di sekolah-sekolah umum. Pada saat itu, mata pelajaran (mapel)
agama memang telah berhasil dimasukkan ke sekolah-sekolah umum negeri
dari tingkat Sekolah Rakyat hingga Sekolah Menengah Atas. Namun, pada
kenyatannya nilai mapel agama tidak mempengaruhi kenaikan kelas alias
tidak dipentingkan. Setelah melalui proses, pada masa Fathurrahman ini,
pendidikan agama dan budi pekerti akhirnya wajib diberikan di sekolah
umum.
Kontribusi lain Fathurrahman ketika menjabat sebagai Menag,
yakni tentang Maklumat Kementerian Agama No. 5 Tahun 1947. Keputusan
ini muncul untuk menengahi permasalahan yang muncul setiap tahun, yakni
tentang penetapan awal dan akhir Ramadhan. Fathurrahman menyadari hal
tersebut, dan mengeluarkan kebijakan yang sampai sekarang masih rutin
diselenggarakan oleh Kementerian Agama.
Selain pernah menjabat
sebagai Menag, Fathurrahman yang lahir di Tuban (Jawa Timur) pada 10
Desember 1901, juga pernah menjadi Wakil Ketua Konstituante (1957-1959)
dan anggota MPRS sebagai wakil Karya Ulama. Karirnya yang bagus di
bidang politik itu diimbangi dengan karirnya yang beragam, seperti
pendidikan dan sosial masyarakat.
Keragaman itu mungkin didapat
dari latarbelakang kehidupan Fathurrahman yang juga penuh dengan warna.
Meskipun lahir dari kalangan NU, yakni dari pasangan Kiai Kafrawi dan
Aisyah, dirinya tak sungkan bergaul dengan teman dari aliran lain.
Bahkan istrinya, Buchainah, berasal dari kalangan Muhammadiyah, meskipun
setelah menikah dengannya kemudian bergabung menjadi pengurus Muslimat
Yogyakarta.
Di kota Gudeg ini, namanya diabadikan sebagai salah
satu nama gedung di sebuah kampus Islam swasta ternama. Ia dianggap
telah berjasa merintis berdirinya kampus tersebut bersama tokoh NU lain,
Prof. K.H.R. Muhammad Adnan. Di kurun waktu itu pula, ia berhasil
merintis lahirnya Perpustakaan Islam dan Poliklinik NU di Yogyakarta.
Pribadi Sederhana nan Moderat
Dalam
mengenyam pendidikan, Fathurrahman selain pernah nyantri di Jamsaren
Solo, juga pernah merasakan pendidikan di Makah dan Mesir (sepuluh
tahun). Sewaktu di Al-Azhar Mesir, ia aktif dalam berbagai kelompok
mahasiswa Indonesia di Mesir, di antaranya adalah Jamaah al-Khairiyah
al-Talabiyah al-Azhariyah al-Jawiyah. Di organisasi itu ia pernah
menjadi ketua.
Usai belajar di Mesir, dia melanjutkan pendidikan
di Leiden Belanda. Kemudian, selama satu tahun ia belajar di Prancis dan
Inggris. Maka tak heran, kalau Fathurrahman dikenal menguasai berbagai
macam bahasa asing.
Namun, dari ketinggian derajat pendidikan
yang ia dapatkan tak membuat ia menjadi besar hati. Dia dikenal sebagai
figur yang sederhana dan dekat dengan rakyat kecil. Salah seorang
putranya menceritakan bahwa jika pulang dari sidang-sidang MPRS, ayahnya
selalu ikut kereta api dan menyempatkan diri berbincang-bincang dengan
penumpang lainnya, menyangkut masalah-masalah sosial.
Di samping
itu ia juga dikenal sebagai pribadi yang menghargai perbedaan pendapat,
bahkan dari berbeda agama sekalipun. Seringkali seorang pastor datang ke
rumahnya untuk membicarakan masalah sosial keagamaan.
Fathurrahman
Kafrawi, menghembuskan nafas terakhirnya pada 2 September 1969, pada
usia 68 tahun. Ia dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta. Ia meninggalkan
seorang istri, Buchainah binti Hisyam, serta lima orang anak :
Salladin, Latifah Hanum, Kamal Hidayat, Djalaluddin Fuad, dan Liliek
Amalia.
logo nuhudzul tholibin

