Suatu hari Kiai Ahmad Dalhar Watu Congol, Magelang kedatangan seseorang
tamu Tionghoa non Muslim. Sang tamu bercerita bahwa perusahaannya
bangkrut dan ia harus menanggung hutang yang cukup banyak. Sang tamu
minta kepada Kiai agar diberi 'amalan' yang dapat 'mendatangkan' rejeki
sehingga sang tamu dapat melunasi hutang-hutangnya.
Tanpa banyak
kata Kiai Ahmad memberi 'ijazah' agar sang tamu mengamalkan wirid dengan
membaca fatihah dan shalawat. Kiai Ahmad berucap "Wocoen: fatihah satus, shalawat satus. bendino!" (Baca tiap hari! fatihah dan shalawat 100 kali).
Tanpa banyak komentar sang tamu kemudian mohon pamit dan pulang.
***
Setahun
setelah peristiwa itu, Kiai Ahmad kedatangan tamu yang membawa
oleh-oleh "wah" mulai dari makanan sampai barang-barang berharga. Kiai
Ahmad pun bertanya-tanya kenapa ada tamu yang membawa pemberian begitu
banyak. Sang tamu pun menjelaskan bahwa berkat menjalankan 'amalan" Kiai
Ahmad ia mendapatkan jalan keluar. Hutang-hutangnya terlunasi,
perusahaannya dapat bangkit kembali.
Kiai Ahmad bertanya, lho
kamu Islam apa bukan? Dijawab bukan Islam. Lalu kamu mengamalkan apa?
Dijawabnya, "Ya itu Kiai, yang dari panjenengan itu. Panjenengan kan
nyuruh saya agar membaca "fatihah satus, sholawat satus… fatihah satus, sholawat satus…". Ya itu yang saya baca sebanyak-banyaknya."
Kiai Ahmad pun tertawa terpingkal-pingkal.
